Breaking News

Sungai Pait Hancur Dibantai Limbah Batu Bara, Darmansyah Berharap Nasibnya Tak Berakhir Serupa


​LAHAT, SRN - Perjuangan hidup yang dilakoni Darmansyah, seorang petani kecil asal Desa Gunung Kembang, Kecamatan Merapi Timur, Kabupaten Lahat, kian menyayat hati. Di tengah himpitan ekonomi dan karut-marut sengketa lahan miliknya yang digantung oleh PT Bukit Asam (PTBA) serta mitra kerjanya PT Pama Persada Nusantara (Pama), ia menyimpan ketakutan besar akan nasibnya berakhir tragis seperti Sungai Pait yang porak-poranda akibat amukan limbah tambang batu bara.

​Bagi Darmansyah, kerusakan ekologis Sungai Pait telah menjadi luka pengingat yang nyata bagaimana ganasnya dampak aktivitas industri pemegang konsesi besar terhadap ruang hidup rakyat. Aliran sungai yang dulunya menjadi sumber penghidupan kini berubah keruh, terendam sedimentasi lumpur, serta dipenuhi butiran batu bara yang diduga akibat aktivitas penambangan PT Pama.

​Darmansyah tahu persis bagaimana nasib Sungai Pait sekarang yang berada dalam kondisi binasa akibat pencemaran parah tersebut. Ironisnya, kerusakan itu terjadi meskipun ia ketahui pihak PTBA sebelumnya telah mengeluarkan surat Corporate Social Responsibility (CSR) untuk proyek pembangunan tembok penahan serta sempat menjanjikan penyediaan akses air bersih bagi warga terdampak.

Namun kenyataannya, hingga saat ini lanjut Darmansyah, janji manis tersebut sama sekali belum terbukti. ​Kondisi inilah yang diakui Darmansyah membuat dirinya semakin cemas. 

"Sebagai petani kecil yang hanya menggantungkan hidup dari sebidang tanah pertanian produktif miliknya, saya merasakan betul bagaimana tekanan korporasi menghimpit ruang hidup saya tanpa kepastian," ungkap Darmansyah dengan nada lirih,Minggu (06/09/26).

Setelah lahannya terdampak aktivitas perusahaan, ia tak hanya harus berjuang menghadapi alotnya meja mediasi di kepolisian yang sarat dengan tekanan pencabutan Laporan Polisi (LP), tetapi juga dihadapkan pada bayang-bayang kelam ketidakadilan yang merenggut alam desanya.

​Baginya, tanah tersebut adalah benteng terakhir pertahanan hidup keluarga di tengah kepungan aktivitas industri tambang yang kian merangsek. Ia hanya berharap jeritan kecilnya didengar, agar nasibnya tidak berakhir mengenaskan seperti Sungai Pait yang dibiarkan hancur mati tanpa solusi nyata.

Menanggapi keresahan seorang petani ini, pihak PTBA hingga berita ini diturunkan belum memberikan keterangan resminya. (Wan)

Tidak ada komentar